Mamuju, Quantumnews.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamuju, Sulawesi Barat, membuat gebrakan besar untuk menyejahterakan sekaligus melindungi para nelayan tradisional di wilayahnya. Tidak tanggung-tanggung, program ini langsung mencetak sejarah dan dijadikan percontohan nasional!

Langkah strategis tersebut diumumkan langsung oleh Bupati Mamuju, Dr. Hj. Sitti Sutinah Suhardi, S.H., M.Si., saat membuka event “Eco-Fun Day Festival Nelayan Mamuju Keren” di Pantai Manakarra, Kabupaten Mamuju, Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan ini digelar sekaligus memeriahkan Hari Jadi Mamuju yang ke-486.
“Tahun ini Pemerintah Kabupaten Mamuju menganggarkan Rp 1,5 miliar untuk masyarakat, terutama nelayan, petani, dan kelompok rentan,” ujar Sutinah di hadapan ratusan nelayan.

Gebrakan yang disiapkan Pemkab Mamuju ini mencakup tiga poin utama: perlindungan hukum, jaminan sosial berupa santunan puluhan juta, hingga bantuan fisik berupa puluhan mesin kapal.

Cetak Sejarah Jadi Percontohan Nasional Perlindungan Hukum
Bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Barat serta Kejaksaan, Pemkab resmi meluncurkan Pos Bantuan Hukum (Posbankum) Komunitas Nelayan Keren di Kampung Nelayan Merah Putih Sumare.

Proyek kolaborasi ini diproyeksikan menjadi role model (percontohan) nasional pertama di Indonesia yang khusus melayani sektor pesisir.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulbar, Saefur Rochim, menjelaskan bahwa inovasi ini hadir karena selama ini banyak nelayan tradisional terjebak pusaran kasus hukum bukan karena sengaja, melainkan karena buta regulasi kelautan.

Posbankum ini nantinya menyediakan empat layanan utama secara gratis: Informasi hukum tata ruang laut, advokasi/pendampingan hukum, mediasi konflik wilayah tangkap, hingga rujukan advokat profesional.

“Ini bukan sekadar mendirikan pos layanan, tapi wujud nyata kehadiran negara memberikan kepastian hukum kepada nelayan sebagai kelompok strategis penjaga ketahanan pangan nasional,” tegas Saefur Rochim.

Di balik penunjukan Mamuju sebagai pilot project nasional ini, ternyata ada cerita diplomasi taktis. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Mamuju mengungkapkan dirinya diperintah langsung oleh Bupati Sutinah untuk memberikan proteksi total ke nelayan tanpa banyak retorika.

“Sesuai perintah Ibu Bupati, jangan banyak retorika, laksanakan yang terbaik untuk nelayan. Maka saya langsung hubungi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum yang baru. Saya kontak Pak Kakanwil, beliau langsung bilang, ‘Gas, Pak Kadis!’. Alhamdulillah, Mamuju kini jadi sentral percontohan nasional,” ungkap Kepala DKP Mamuju.

Santunan Kematian Rp 42 Juta dari APBD & Serbuan Bantuan Mesin
Selain perlindungan hukum, Pemkab Mamuju juga fokus pada jaminan keselamatan kerja. Dalam festival tersebut, Bupati Sutinah menyerahkan santunan kematian secara simbolis senilai Rp 42 juta kepada ahli waris salah satu nelayan yang berpulang.

Sutinah juga meluruskan persepsi publik bahwa dana tersebut murni dialokasikan dari APBD Kabupaten Mamuju melalui program BPJS Ketenagakerjaan.

“Jadi santunan itu bukan dari BPJS Bapak-Ibu, melainkan dari Pemerintah Kabupaten Mamuju yang disalurkan melalui program BPJS Ketenagakerjaan. Inilah cara nyata kita memproteksi masyarakat,” urai Sutinah.

Tak berhenti di situ, Pemkab Mamuju juga sukses mengamankan logistik dari pemerintah pusat pasca mengikuti Rakernas Perikanan.

Bantuan fisik yang siap disalurkan ke nelayan di antaranya:

40 unit mesin kapal (mesin dalam dan bawah).
70 unit jaring pukat/alat tangkap.
Tambahan komitmen 30 unit alat tangkap serta armada kapal dari Ditjen KKP dalam waktu dekat.

Sentilan Menohok Bupati: ‘Pulang Jangan Malah Bawa Indomie’
Di sela-sela kegembiraan festival, Bupati Sutinah sempat memberikan sentilan menohok namun penuh canda kepada para nelayan. Ia menyayangkan masih adanya kebiasaan keluarga pesisir yang menjual habis seluruh ikan tangkapannya yang bergizi tinggi ke pasar, namun uangnya justru dibelikan makanan instan untuk anak istri di rumah.

“Saya berharap para nelayan, begitu mendapatkan hasil yang melimpah, jangan dijual semua. Ingat anak istri di rumah. Jangan semua dijual ke pasar, pulang bawa Indomie. Banyak yang seperti itu,” cetus perempuan pertama yang menjabat Bupati Mamuju tersebut disambut tawa hadirin.

Sutinah mengingatkan bahwa ikan kaya akan gizi untuk tumbuh kembang anak agar cerdas. Untuk mengubah pola pikir tersebut, Pemkab Mamuju pun meluncurkan kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) secara resmi sebagai sarana edukasi gizi warga pesisir.

Suasana penutupan acara pun semakin cair saat Sutinah berkelakar tentang aktivitas melaut yang sempat agak sepi karena para nelayan sibuk menonton sepak bola mendukung tim jagoannya.

“Kata Pak Kadis, nelayan agak kurang di laut karena banyak pendukung Argentina, sama kayak Bupatinya. Tapi tanggal 20 sudah selesai, insyaallah Argentina menang. Setelah itu kondisi kembali normal, nelayan kembali melaut dan kita berharap mereka mendapatkan hasil yang melimpah,” candanya sembari membuka festival secara resmi.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *