Mamuju, Quantumnews.id – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulawesi Barat menegaskan pentingnya legalitas pemanfaatan ruang laut dan pelestarian ekosistem pesisir dalam kegiatan konservasi yang digelar di Pulau Karampuang, Kabupaten Mamuju, Selasa (22/7/2025).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada (UGM), Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Muhammadiyah Mamuju, DKP Sulbar, serta Dinas Pariwisata Kabupaten Mamuju.
Pulau Karampuang dipilih sebagai lokasi pengembangan wisata bahari minat khusus dan coral nursery berbasis masyarakat. Langkah ini sejalan dengan misi Pemerintah Provinsi Sulbar dalam menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, serta selaras dengan agenda Astacita Presiden RI.
Kegiatan diikuti masyarakat setempat dan menghadirkan narasumber lintas sektor, termasuk Kepala Dinas Pariwisata Mamuju, Kabid PSDKP DKP Sulbar, dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju, dan staf Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil DKP Sulbar.
Materi utama disampaikan oleh DKP Sulbar dengan tema “Pengenalan Ekosistem Terumbu Karang”. Dalam pemaparannya, ditekankan pentingnya menjaga tiga ekosistem utama pesisir: mangrove, lamun, dan terumbu karang, yang saling terhubung dan menopang keberlangsungan lingkungan serta ekonomi masyarakat.
Coral nursery disebut sebagai strategi penting dalam restorasi ekosistem laut yang rusak, sekaligus mendukung perlindungan pantai, pariwisata selam, peningkatan keanekaragaman hayati, dan produksi perikanan berkelanjutan.
Selain itu, DKP Sulbar mengingatkan pentingnya memiliki izin Kesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL) sebagaimana diatur dalam Permen KP Nomor 28 Tahun 2021. Izin ini wajib dimiliki bagi pemanfaatan ruang laut yang berlangsung lebih dari 30 hari.
“Konservasi adalah penjaga ekosistem laut. DKP Sulbar mendukung program edukatif dan partisipatif seperti ini yang memberdayakan masyarakat pesisir untuk menjaga sumber daya laut kita,” ujar Suyuti Marzuki dari DKP Sulbar.
Kegiatan ini menunjukkan kuatnya sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun potensi wisata bahari berbasis konservasi di Sulawesi Barat, khususnya di Pulau Karampuang yang dikenal dengan kekayaan bawah lautnya.





